Home » » Tahapan Migrasi dari OS Komersial (Windows) ke OS Opensource (Linux)

Tahapan Migrasi dari OS Komersial (Windows) ke OS Opensource (Linux)

Banyaknya pengguna Windows membuat seseorang merasa ketergantungan akan Operating System ini, dan rasa ketergantungan ini dimanfaatkan windows dengan pembelian licensi yang mahal.  Dan sangat dikhawatirkan apabila seluruh warga dunia menggunakan windows maka akan terjadi monopoli harga Operating System.  Maka dari itu sekiranya kita belajar menggunakan OS gratisan seperti Linux yang terdiri dari beragam versi contohnya red hat, fedora dan Ubuntu.  Di Indonesia sendiri sudah dikembangkan OS Versi Indonesia.  Kementrian Kominfo sendiri sudah mencanangkan IGOS (Indonesia Goes Open Source) dengan tujuan menekan biaya penggunaan OS Windows, karena dengan menggunakan OS lokal/Gratisan biaya pembelian lisensi software akan bisa ditekan dan dengan penggunaan Linux sebagai platformnya bisa dikembangkan oleh kita sendiri, jadi tidak tergantung Microsoft. 

Melakukan migrasi ke open source software secara garis besar cukup mudah namum ada kalanya rumit bagi anda yang bukan ahlinya. Dengan rencana yang jelas, sistematis dan teratur dapat membantu dalam proses migrasi ke OSS. Berikut ini adalah langkah-langkah dalam tahapan melakukan migrasi ke Open Source Software :

1.Memorandum of Understanding : Ini adalah awal dari semuanya. Program migrasi harus mendapat dukungan dari jajaran teratas dari institusi yang bersangkutan.

2.Survey / Inventarisasi SDM, Hardware, Software : Ini harus dilakukan untuk mengetahui peta situasi pada saat ini. Setelah data-data ini lengkap, maka baru kita bisa membuat perencanaan & strategi dalam implementasi migrasi.

3.Planning : Ini adalah langkah yang paling penting dalam program migrasi. Kadang tahap ini (dan survey) bisa memakan waktu lebih lama dari implementasi migrasinya sendiri. Tapi, planning yang baik & tepat akan meminimalkan masalah pada saat eksekusi.

4.Training for Trainers : Salah satu persiapan pra migrasi. Pemilihan trainer harus lebih menitik beratkan pada kemampuan persuasi ybs. Bukan kemampuan teknis. Hal ini karena masalah terbesar pada migrasi Linux, pada saat ini, bukan lagi masalah teknis. Namun masalah persepsi / psikologis, dimana solusinya adalah berupa pendekatan yang persuasif.

5.Sosialisasi : sebelum program migrasi dijalankan, perlu diadakan kegiatan sosialisasi kepada para calon penggunanya. Dengan mengetahui program migrasi ini secara lebih detail, maka akan bisa didapatkan dukungan dari mereka.

Kegiatan sosialisasi ini harus bersifat persuasif / kampanye positif, untuk membangun motivasi pengguna, dan membentuk persepsi yang positif mengenai program migrasi itu sendiri.

6.Migrasi bertahap : pekerjaan migrasi itu sendiri harus dilakukan secara bertahap, jangan sekaligus dalam jumlah besar. Ini akan mempermudah manajemen migrasi, dan meminimalkan potensi masalah.

7.Training : perlu dilakukan dengan tepat & persuasif. Idealnya, tidak lama setelah di training, kemudian sudah langsung bisa mempraktekkannya di komputer mereka masing-masing.

8.Support : tim support harus responsif dan user-oriented. Bekerja dengan SLA (Service Level Agreement) yang jelas dan terus dimonitor.

9.Dokumentasi : hal yang kadang terlewatkan pada pekerjaan migrasi ini adalah dokumentasi. Dokumentasi yang bagus akan mempermudah pekerjaan maintenance pada jangka panjang

Referensi Asosiasi Open Source Indonesia

0 komentar:

Poskan Komentar


Paket Wisata Bandung Murah

Paket Wisata Bandung Murah
Paket Wisata Bandung Murah