Home » » Sejarah Lisan Pengertian Teori dan Metode

Sejarah Lisan Pengertian Teori dan Metode

Sejarah Lisan Pengertian Teori dan Metode - Sejarah lisan adalah bagian dari metode penelitian sejarah yang merupakan teknik pengumpulan sumber sejarah dengan cara wawancara terhadap pelaku dan saksi sejarah atau orang-orang yang pernah hidup pada jaman yang sedang diteliti oleh peneliti sejarah (sejarawan). Saksi sejarah atau si-pelisan harus benar-benar mengetahui, mengikuti kejadian masa lampau yang diceritakan dengan penuh tanggung jawab atas kebenarannya. 

Sebagai bagian dari pengumpulan sumber sejarah (heuristik) dalam metode sejarah, maka Sejarah lisan bersifat melengkapi dari data-data yang diperoleh dalam bentuk tertulis. Terutama bagi sejarah “masa kini” atau sejarah kontemporer yang dimungkinkan pelaku sejarah-nya masih hidup, maka dari itu berikut ini sedikit informasi mengenai Sejarah Lisan Pengertian Teori dan Metode


 Kegunaan sejarah lisan dalam kajian sejarah yang bersifat kontemporer terutama di Indonesia sangat besar, terlebih lagi data-data tertulis sangat sulit ditemui karena berlangsung dalam suasana perang (jaman revolusi) atau karena belum bisa dibuka dalam peraturan arsip di Indonesia. Selain itu, permasalahan kontemporer banyak melibatkan orang yang masih hidup dan kebanyakan dari mereka memegang jabatan penting dalam pemerintahan, sehingga sangat sulit untuk dibuka.

Sejarah lisan (oral history) berbeda dengan tradisi lisan (oral traditions). Dalam tradisi lisan tidak termasuk di dalamnya kesaksian mata yang merupakan data lisan. Juga di sini tidak termasuk rerasan masyarakat yang meskipun lisan tetapi tidak ditularkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Tradisi lisan dengan demikian terbatas di dalam kebudayaan lisan dari masyarakat yang belum mengenal tulisan. Sama seperti dokumen dalam masyarakat yang sudah mengenal tulisan, tradisi lisan merupakan sumber sejarah yang merekam masa lampau.  Akan tetapi kesejarahan tradisi lisan barulah sebagian dari isi tradisi lisan itu. Selain itu mengandung kejadian nilai-nilai moral, keagamaan, adat istiadat, cerita-cerita khayal, peribahasa, nyanyian, mantra.

Tradisi lisan dengan demikian menjadi sumber penulisan bagi antropologi dan sejarawan. Dalam ilmu antropologi tradisi lisan sebagai sumber data bagi penelitian dapat dipergunakan sejak awal  timbulnya ilmu itu, tetapi dalam ilmu sejarah penggunaan tradisi lisan masih merupakan hal yang baru. Usaha untuk menarik minat kepada penulisan sejarah dengan memakai sumber tradisi lisan dalam seminar Sejarah Nasional III digarap secara khusus dalam panel etno-history.

Berbeda dan tradisi lisan, sejarah lisan tidak didapatkan tetapi dicari dengan kesengajaan. Penggalian sumber sejarah dengan teknik wawancara sudah lama dikenal, bahkan Herodotus pada abad ke-5 SM telah menggunakan saksi-saksi mata dengan menanya silang mereka. Sejarah lisan sebagai teknik dan metode kemudian juga digunakan oleh penulis-penulis sejarah dari jaman Romawi, jaman pertengahan dan jaman modern.

Pada pertengahan abad ke-19 sejarah lisan mendapat kritikan tajam dari leopold von Ranke yang mementingkan kesaksian-kesaksian dokumenter. Meskipun demikian penggunaan sejarah lisan masih terus berjalan. Dalam abad ke-20 ini sejarah lisan memperoleh kembali kekuatannya setelah adanya teknologi baru dalam perekaman suara dengan munculnya pita tape. Dengan teknologi baru ini menjadi mudahlah pencatatan wawancara. Kesulitan teknik dalam merekam dan menyimpan sumber lisan sudah teratasi.

Kesadaran para sejarawan mengenai proyek Sejarah Lisan Pengertian Teori dan Metode sehubungan dengan berkembangnya alat-alat elektronik bermula dari negara Amerika. Sejarawan Amerika menyadari bahwa pada waktu Perang Dunia II  tidak semuanya pertimbangan-pertimbangan kegiatan para pemimpin Amerika itu ditunjang atau ada bukti-bukti tertulisnya. Presiden memerintahkan suatu kebijaksanaan dari pesawat terbang, Panglima Perang menyampaikan perintahnya melalui telepon, atau melalui telegram-telegram rahasia yang mungkin sudah hilang. Oleh karena itu lalu ada semacam Oral History roject pada universitas-Universitas tertentu. Pada saat sekarang ini yang dianggap besar dan masih hidup adalah di Columbia dan Barkeley. Di Indonesia, kesadaran mengenai pentingnya sejarah lisan dipelopori oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), setelah menyadari bahwa koleksinya agak tertinggal jika dibandingkan dengan koleksi negara lain terutama arsip-arsip modernnya.

Malaysia, Arsip Nasionalinya sudah teratur, Singapura juga. Akan tetapi Arsip Nasional RI baru saja memikirkan bagaimana mengoleksi arsip-arsip yang modern, kontemporer dan ternyata terbukti arsip-arsipnya juga hilang. Hal ini dikarenakan revolusi Indonesia tidak memungkinkan orang memikirkan pengamanan arsip, sebagian bahkan menjadi barang rampasan tentara Belanda. Lalu pada suatu saat terlihat bahwa banyak tokoh-tokoh yang ternyata masih menyimpan pengetahuan ingatannya mengenai peristiwa sejarah atau situasi sejarah, Jadi ada event, ada peristiwa, dan ada situasi. Kalau seseorang terlibat di dalam peristiwannya tentu dia berada dalam situasi itu dan mengetahui hal itu. Hal inilah yang akan menjadi garapan Sejarah Lisan Pengertian Teori dan Metode nya.

0 komentar:

Poskan Komentar