Home » » China vs AS

China vs AS

Stasiun TV Beijing beberapa waktu lalu melaporkan suatu berita mengenai adanya kasus penggunaan kertas kardus yang direndam air garam sebagai daging isi dalam bakpao. Berita ini telah mengundang perhatian besar dari masyarakat, setelah berita tersebut disebar luaskan oleh berbagai kalangan media massa dan situs internet.Bahkan kelompok media massa skala besar tingkat internasional pun mengekor pemberitaan tersebut, memicu kekhawatiran seluruh negara di dunia terhadap makanan di China.

Namun pemerintah China membantah isu tersebut, dan menyatakan bahwa berita tersebut adalah berita palsu dari Zi Bei Jia - seorang reporter stasiun TV Beijing- untuk menaikkan tingkat audiensi.

Sebelumnya China juga diguncang isu tidak sedap berupa pemakaian cat yang mengandung terlalu banyak timbal pada mainan anak-anak. Akibat kasus ini, penjualan produk mainan anak-anak asal China di seluruh dunia anjlok cukup signifikan. China juga sempat dihajar dengan hebohnya berita permen beracun, makanan berbahaya, garmen dan tekstil yang mudah terbakar, sendal karet yang melecetkan kaki, obat-obatan yang berbahaya, dan tak kurang dari ratusan media Barat ramai-ramai mengangkat berita tentang berbagai pelanggaran HAM terhadap para pekerja China.


Raksasa Ekonomi Dunia

China kerap diramalkan bakal menjadi salah satu raksasa alias kekuatan utama ekonomi dunia. Sebenarnya ramalan itu kini sudah menjadi kenyataan. Ini bermula ketika mayoritas ekonominya diswastakan sekitar tiga dasawarsa lalu.

Walau pemerintah masih mengawasi ekonominya secara politik, terutama terhadap perusahaan-perusahaan milik pemerintah dan sektor perbankan.

Sejak 1978, kepemimpinan Pemerintah China telah memperharui ekonomi dari ekonomi terencana model Soviet ke ekonomi yang berorientasi pasar, tapi masih dalam kerangka kerja politik yang kaku dari Partai Komunis.

Yang menarik, Pemerintah China tidak suka menekankan kesamarataan saat mulai membangun ekonominya, sebaliknya pemerintah menekankan peningkatan pendapatan pribadi dan konsumsi, serta memperkenalkan sistem manajemen baru untuk meningkatkan produktivitas.

Pemerintah juga memfokuskan diri dalam perdagangan asing sebagai kendaraan utama untuk pertumbuhan ekonomi. Untuk itu mereka mendirikan lebih dari 2.000 Zona Ekonomi Khusus (Special Economic Zones, SEZ) di mana hukum investasi diliberalisasi untuk menarik modal asing.

Hasilnya adalah PDB yang berlipat empat sejak 1978. Pada 1999 dengan jumlah populasi 1,25 milyar orang danPDB 3.800 dolar AS per kapita, China sudah menjadi negara dengan ekonomi keenam terbesar di dunia dari segi nilai tukar, dan ketiga terbesar di dunia setelah Uni Eropa dan AS dalam daya beli.

Pendapatan tahunan rata-rata pekerja China mencapai 1.300 dolar AS. Perkembangan ekonomi China diyakinisebagai salah satu yang tercepat di dunia, sekitar 7-8 persen per tahun.

Ini menjadikan China sebagai fokus utama dunia pada masa kini dengan hampir semua negara, termasuk negara Barat yang selalu mengkritik China, ingin sekali menjalin hubungan perdagangan dengannya. Apalagi, setelah pada 1 Januari 2002, China sudah menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Yang lebih mencengangkan, ekspor China ke AS mencapai 125 milyar dolar AS pada 2002, sebaliknya ekspor AS ke China hanya 19 milyar dolar AS. Perbedaan ini utamanya disebabkan oleh fakta bahwa orang AS mengkonsumsi lebih banyak dari yang mereka produksi, dan tentu saja karena orang China yang dibayar rendah tersebut, tidak mampu membeli produk mahal AS.

Faktor lainnya adalah pertukaran valuta yang tidak menguntungkan antara yuan/renminbi dan
dolar AS yang di-kunci, karena China mengikatkannya kepada kadar tetap 8 renminbi pada 1 dolar AS. Walau, pada 21 Juli 2005, pemerintah China membolehkan mata uang renminbi ditentukan oleh pasar, dan menoleransi kenaikan 0,3 persen sehari. Ekspor China ke AS pun melonjak 20 persen per tahun, lebih cepat dari ekspor AS ke China. Sementara, dengan penghapusan kuota tekstil, China sudah tentu menguasai sebagian besar pasar baju dunia. Lalu bagaimana dengan AS? Super power dunia ini sejak awal menjalankan sistem ekonomi kapitalis. Pertumbuhan ekonomi negara ini kokoh di permukaan. Indikatornya pengangguran dan inflasi
rendah.

Namun, defisit perdagangan yang rendah, secara tak langsung menggambaran AS membeli lebih banyak barang dari negara lain ketimbang menjualnya.Ekonomi AS ialah salah satu yang terpenting di dunia. Banyak negara telah menjadikan dolar AS sebagai tolok ukur mata uangnya, artinya berharga atau tidaknya mata uang mereka ditentukan oleh fluktuasi dolar AS. Sejumlah negara menggunakan dolar sebagai mata uangnya. Bursa saham AS dipandang sebagai indikator ekonomi dunia.

Jarak struktur sosial AS yang besar, mencerminkan sejumlah orang AS cukup kaya. Pendapatan rata-rata penduduk AS sebesar 37.000 dolar AS setahun pada 2002. Walau sebenarnya masih ada juga rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Negara ini memiliki banyak sumber daya mineral, seperti emas, minyak, batu bara dan endapan uranium. Pertanian membuat negara ini berada di antara produsen utama, di antara lainnya, jagung, gandum, gula dan tembakau. AS memproduksi mobil, pesawat terbang dan benda elektronik. Sekitar 3/4 penduduk AS bekerja di industri jasa. Kondisi ekonomi kedua negara yang nyaris bertolak belakang tersebut menciptakan sebuah keadaan yang kontroverisal. Dalam arti geliat ekonomi China makin berpotensi menggeser
hegemoni ekonomi AS. Meski tak diakui terang-terangan, AS kian ngeri melihat perkembangan ekonomi China. Apalagi menjelang Olimpiade Beijing, yang pasti akan membuat ekonomi China bertambah booming.

Perang PR , Bisnis dan Ekonomi


China telah, sedang, dan terus akan dihajar dengan berbagai pemberitaan dari berbagaibelahan dunia, terutama barat dan AS. Dengan berbagai isu antara lain keselamatan dan hak asasi buruh, kualitas produk-produk, higienis makanan, minuman dan obat-obatan, dan berbagai macam bentuk serangan lainnya.

Yang memang faktanya hal-hal yg berkaitan dengan kesehatan, keselamatan dan hak asasi manusia seperti ini, seperti di negara kita juga, sangat mudah ditemukan di China.

Seperti bahwa pekerja China dikenal sebagai buruh yang dibayar murah, mereka biasanya dibayar 50 sen-1 dolar AS per jam (rata-rata 0,86 dolar AS), -- bandingkan dengan 2-2,5 dolar AS di Meksiko, dan 8,50-20 dolar AS di AS.

Buruh-buruh China ini seringkali terpaksa bekerja keras di kawasan berbahaya dan mudah ditindas majikan, karena tiada UU dan serikat sekerja yang bisa melindungi hak mereka.

Namun diluar itu semua pemicu utamanya lebih pada perang bisnis dan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi China yang luar biasa, sangat mengkhawatirkan banyak pihak. Apalagi saat ini China sedang bersiap menyongsong kemakmurannya yang akan meledak menjelang, saat dan setelah Olimpiade China.

Sekarang tinggal kita tunggu apa reaksi China terhadap ini semua. Jika China menyadari bahaya ini dan membenahi diri dengan menjaga kualitas produk-produknya sehingga sesuai dengan standard negara-negara maju, maka China akan semakin kuat dan berjaya.

Tetapi sebaliknya jika China, tidak mampu melakukan hal ini. Kita bisa lihat bahwa China akan limbung dengan berbagai hantaman berita-berita seperti ini. Apalagi China selalu lemah dalam Strategic Public Relationsnya, karena paradigma Strategic Public Relations yang lemah di kalangan pemerintah dan dunia usaha China. Sementara "lawan-lawannya" justru sebaliknya sangat piawai dibidang ini.

Namun menurut saya, China akan bisa mengatasi masalah ini dengan "caranya sendiri", setelah sebelumnya China mampu mengelola krisis dan bangkit dari hantaman SARS, yang sampai sekarang asal-usulnya masih sangat misterius.

Sangat menarik untuk memperhatikan bagaimana cara pemerintah China mengelola krisis ini. Agar setidaknya jika krisis yang sama terjadi terhadap negara tercinta Indonesia, kita sudah memasang kuda-kuda dan sigap untuk menghadapinya.
.
sumber : millis

baca juga :

0 komentar:

Poskan Komentar


Paket Wisata Bandung Murah

Paket Wisata Bandung Murah
Paket Wisata Bandung Murah