Home » » Sekilas mengenai Pendidikan POLITEKNIK di Indonesia

Sekilas mengenai Pendidikan POLITEKNIK di Indonesia

Perbedaan Politeknik dan Universitas/Sekolah Tinggi. Saya sering mendengar banyak orang yang bertanya, Kalau DIII ama Politeknik itu apa?..Pada waktu itu saudara saya bertanya demikian, beliau tidak tahu DIII dan Politeknik Itu apa kemudian Bedanya dengan Universitas/Sekolah Tinggi jenjang S1 apa?..Saya sendiri bukan pengamat pendidikan, tetapi berdasarkan pengalaman saya karena saya merasakan kuliah di Politeknik dan Sekolah Tinggi . Untuk saat ini saya akan membahas pengalaman saya berkuliah di Politeknik dengan jenjang DIII, semoga postingan ini bermanfaat bagi teman-teman yang akan melanjutkan perkuliahan :

Pendidikan Politeknik yang saya rasakan merupakan suatu pendidikan vokasi dimana lebih menekankan kepraktisan. Kalau di tempat kuliah saya dulu (DIII Politeknik) disana dijelaskan bahwa konsep perkuliahan 60% Praktek dan 40% Teori. Menurut Wikipedia : Politeknik adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus.

Sistem pembelajaran Politeknik memang seharusnya lebih menekannkan kepada pendidikan vokasi. Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana (strata 1).

Politeknik sendiri dalam perkembangannya dikhususkan bagi jenjang Diploma, dimulai dari Diploma 1 s.d Diploma IV. Tetapi saat ini Politeknik jarang mengadakan pendidikan jenjang Diploma I dan II, lebih banyak Diploma III dan sekarang sedang berkembang dengan pendidikan Diploma III. Pendidikan DIII (Diploma III) merupakan suatu pendidikan dalam jangka waktu 3 tahun. Tetapi sekarang banyak tempat-tempat kuliah yang malah menawarkan lulus Diploma III dengan waktu singkat dari 3 tahun. Tetapi pertanyaan saya apakah dengan sistem Diploma III kurang dari 3 tahun, sudah menguasai vokasi/kepraktisan bidangnya?.

Kurangnya pengertian terhadap sifat dan tujuan jalur Pendidikan Tinggi Kejuruan yang menekankan pada keahlian terapan, dan memberikan sebutan Ahli kepada para tamatannya, terasa akan menjadi potensi penyebab pergeseran makna pendidikan Diploma. Sebutan untuk masing masing jenjang adalah D1 = Ahli Pratama, D2 = Ahli Muda, D3 = Ahli Madya, D4 = Ahli (sekarang dengan gelar SST, Sarjana Sains Terapan); jenjang diatasnya adalah Spesialis I dan Spesialis II, yang terinspirasi dari adanya sebutan Spesialis dan Super Spesialis (sekalipun mungkin tidak resmi) dibidang kedokteran. Sebutan yang dikonsepkan secara umum adalah untuk Spesialis I = Ahli Utama Muda dan Spesialis II = Ahli Utama. Disadari sepenuhnya, bahwa jalur ini memang bukan jalur pendidikan akademik tetapi Keahlian, karena itu memberikan Sebutan Keahlian. Yang belum terpikirkan dengan tuntas adalah sifat jenjang Post Diploma, apakah akan makin menyempit dan mendalam serta fokus dalam keahlian spesifik, atau sebaliknya justru semakin melebar sifatnya. Namun satu hal pasti yaitu pengaturan jalur keahlian ini masih menggunakan pendekatan pemikiran jalur akademik, dan inilah yang berpotensi menggeser makna pendidkan keahlian. Ketentuan bahwa instruktur (sekarang disebut Dosen) minimum berijasah S1, bahkan sekarang cenderung menjadi S2, maka dosen-dosen baru direkrut langsung dari tamatan S1 atau S2, yang tentu saja tidak akan mampu kalau tidak enggan memberikan kemahiran terapan dibengkel maupun laboratorium, tanpa pelatihan pelatihan seperti angkatan angkatan awal instruktur di Politeknik. Mereka cenderung lebih suka pendidikan lanjut yang memberikan gelar dari pada pelatihan kompetensi yang diperlukan, karena waktunya hampir sama saja lamanya. Sebagai dosen seolah-olah tugasnya hanya memberikan pengajaran teoretik dan menjauhi bengkel dan laboratorium, karena dianggap bengkel dan laboratorium itu bukan lahan dosen. Lahan dosen adalah didepan computer bukan permesinan, sedang permesinan itu adalah lahannya instruktur, begitulah kiranya, nama pun bisa merubah sikap.

Saat ini pendidikan Politeknik khususnya Diploma III memang menjadi banyak incaran calon-calon mahasiswa, karena selain pendidikannya cepat, lulusannya pun sekarang banyak dicari oleh perusahaan-perusahaan karena kurikullum Politeknik memang diperuntukan dan disesuaikan dengan industri dan perusahaan sehingga banyak dibutuhkan. Tetapi ada karena banyaknya kebutuhan dari Industri menjadikan banyak Universitas/Sekolah Tinggi dan pendirian Politeknik-Politeknik baru. Yang pasti pengembangan kependidikan Politeknik khususnya Diploma III yang lebih menekankan kepada praktek membutuhkan biaya yang sangat besar dibandingkan pendidikan keSarjanaan yang berfokus pada teoritis, hal ini dikarenakan bahan-bahan praktek yang membutuhkan biaya besar. Politeknik dikenal sebagai institusi yang menempa anak didiknya untuk menjadi tenaga ahli yang aplikatif, dalam artian langsung bisa bekerja disertai kompetensi yang bisa diandalkan

Contohnya saja pendidikan Politeknik di Bidang Manufakturing, dimana para mahasiswanya diajarkan untuk praktek bengkel, memproduksi mesin, dan mendesain gambar teknik. Itu semua membutuhkan bahan praktek yang saya rasa biayanya sangat besar sekali dibandingkan dengan sekedar pelajaran di kelas dengan teori-teori semata. coba kita bayangkan praktek Manufaktur/Mesin tadi membutuhkan biaya yang sangat besar karena didalamnya meliputi komponen bahan praktek, seperti peralatan praktek, unsur K3 dalam praktek, material praktek dan resiko dalam praktek itu sendiri.

Politenik Seperti apa yang mampu menjamin kita masa depan yang baik?

Pernyataan diatas pasti merupakan tujuan dari calon-calon mahasiswa. Mereka mencari tempat kuliah yang setidaknya mampu menjamin mereka untuk mencapai masa depan yang baik, ya intinya lulus dan cepat mendapatkan pekerjaan. Politeknik yang baik menurut saya pastinya Politeknik yang memiliki pendidikan yang berkualitas. Kualitas dalam hal kurikullum serta banyak nya relasi dan keberhasilan para Alumninya. Ini juga bisa dilihat dari indikator nyata seperti akreditasi dan tingkat kepercayaan industri bagi para lulusannya. Tetapi yang pasti pilih Politeknik yang memang sudah terpandang dan dipandang oleh Masyarakat luas.
 
Sampai dengan saat ini Politeknik terus dikembangkan oleh pemerintah, hal ini diwujudkan dengan banyaknya Politeknik-politeknik baru yang berdiri.  dibawah ini merupakan alamat-alamat Politeknik di Indonesia...(tidak semua alamat, tapi silahkan googling sendiri :)_ :

 

Yang saya tahu Pendidikan Diploma dan Politeknik ini diawali / digagas oleh Bpk. Hadiwarata yaitu dengan pendirian Politeknik pertama di Indonesia dengan nama Politeknik Mekanik Swiss (PMS) yang bertempat di Bandung.   Politeknik Mekanik Swiss (PMS) ini tercipta berkat kerjasama antar Pemerintahan Swiss melalui lembaga Swiss Contact dan ITB Bandung.  Saat ini Politeknik Mekanik Swiss (PMS) telah berganti nama yaitu Politeknik Manufaktur Negeri Bandung (POLMAN Negeri Bandung)yang bertempat di Dago Bandung.

Menambah referensi anda mengenai Pendidikan Politeknik silahkan baca catatan Bpk. Hadirawatama berikut

Jadi sekarang sudah menentukan pilihan mau masuk mana?...
 

0 komentar:

Poskan Komentar