Home » » PECI, SEBUAH BUDAYA ATAU SIMBOL AGAMA ??

PECI, SEBUAH BUDAYA ATAU SIMBOL AGAMA ??



 


Sudah lihat macam-macam Peci/Songkok / penutup kepala diatas?..apakah memakai peci itu merupakan ciri orang islam??..apakah peci merupakan simbol agama atau lainnya?..Setelah saya browsing mencari referensi mengenai Asal Muasal Peci, ternyata peci bukanlah suatu simbol agama tertentu tetapi suatu kebudayaan.  Tetapi saat ini budaya dikait-kaitkan dengan klaim suatu agama tertentu, ya contohnya di Indonesia saat ini.  Seperti pada saat Maulud Nabi dimana ada festival budaya Dong Dang di Bogor dalam rangkah memeriahkan Maulud Nabi.  Festival ini merupakan ciri khas dikota Bogor ketika tiba Hari Maulid Nabi, padahal Festival ini bersifat budaya bukan bawaan Islam.  Dongdang sendiri adalah tempat untuk membawa makanan, yang biasa digunakan untuk besanan pada saat hajatan. Beragam dongdang diarak rame-rame melintasi Jalan Raya Tegar Beriman Cibinong. 

Bisa dibayang kan apabila kita saling mengklaim yang pada awal nya suatu budaya tetapi di identikan dengan Suatu Agama.  Contohnya Peci.  Di Indonesia, ketika orang memakai peci identiknya beragama Islam tetapi kalau kita melihat ternyata banyak para pelaku agama lain yang memakai peci juga, seperti gambar diatas.


Peci Merupakan Tradisi
 
Pada dasarnya tradisi menutup kepala merupakan sebuah tradisi yang tidak hanya dimiliki oleh orang Islam. Banyak orang lain yang menggunakan tradisi tersebut semata-mata sebagai pengejawantahan nilai kesopanan yang mereka yakini. Sama halnya dengan kebiasaan bertopi para bangsawan Inggris dan Belanda pada abad pertengahan. Dalam Islam, menutup kepala ketika shalat merupakan sebuah pelengkap dan wujud rasa malu terhadap kesempurnaan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, karena dalam ajaran Islam shalat merupakan sarana komunikasi langsung satu arah dengan sang khalik. Dalam menjalankan shalatnya, layaknya sebuah komunikasi yang bersifat langsung, umat Islam yakin bahwa sesungguhnya Allah melihat mereka. Karena itu, dengan segala kekurangan dan ketidaksempurnaannya sebagai manusia, menutup kepala dirasa perlu guna menjaga kerapihan dan sebagai cerminan kesiapan seorang hamba dalam menemui penciptanya.

Pengaruh budaya setempat terlihat dari bagaimana busana seorang muslim secara keseluruhan ketika shalat. Perbedaan penggunaan baju gamis dan baju koko yang terlihat antara orang Arab dan Orang Indonesia bukanlah sesuatu hal yang mencerminkan perbedaan ajaran. Hal itu hanyalah memperlihatkan pebedaan dalam budaya yang disebabkan oleh perbedaan geografis. Budaya laki-laki Arab yang bergamis merupakan perwujudan dari pola adaptasi mereka terhadap iklim panas tempat mereka tinggal. Begitu pula dengan sorban penutup kepala mereka yang juga sekaligus sebagai penutup muka merupakan cara mereka untuk melindungi kepala dan wajah mereka dari terjangan pasir yang melimpah ruah di padang pasir sana akibat cuaca yang selalu berubah dalam tingkatan ekstrim.


Peci Di Indonesia

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Segala busana yang dipakai orang Islam di Indonesia merupakan hal-hal yang terbentuk dari akulturasi ajaran Islam dengan budaya setempat. Baju koko yang banyak dipakai sekarang merupakan busana yang dibawa orang Cina yang telah mendiami Batavia sejak zaman penjajahan. Akulturasi ini dapat dimengerti jika kita melihat asal tersebarnya ajaran Islam di Indonesia. Dalam penyebarannya, Islam di tanah Jawa banyak mendapat pengaruh dari Arab dan Cina. Ini merupakan hasil dari hubungan baik perdagangan penduduk tanah Jawa dengan kedua tempat tersebut.

Pemakaian peci baru meluas di Indonesia pada awal abad ke-20, ketika naga-naganya pergerakan kemerdekaan Indonesia mulai merupa. Peci merupakan mode pakaian yang jadi simbol perlawanan terhadap penjajah. Para pemuda Indonesia, tidak peduli agama dan suku, mengenakan peci sebagai bentuk kesadaran sebagai satu bangsa jajahan. Perasaan ini terpelihara sampai seabad kemudian, di masa peci menjadi aksesoris resmi yang dipakai presiden dan para mentrinya. 

Catatan pertama: 
Memahami Fungsi Peci (Songkok) Bagi pemeluk agama Islam, peci berfungsi sebagai alat bantu dalam menjalankan kegiatan ibadah, dalam hal ini, Solat. Mengapa memakai peci? Sebab dalam salah satu aturan solat, pada saat bersujud, tidak dibenarkan ada benda lain yang menghalangi antara dah i dan tempat sujud (bhs.Arab= sajadah), meskipun hanya sehelai rambut. Dalam hal ini, biasanya rambut turut jatuh dan menghalangi dahi untuk bersentuhan langsung dengan sajadah. Maka dipakailah peci (khususnya pria) untuk menahan rambut agar tidak jatuh m enghalangi dahi. Jadi peci sifatnya sangat situasional, sebab selain peci anda dapat menggunakan alat bantu lain, misalnya sorban yang diikatkan, peci ala Arab yang bundar dan putih, topi ala Turki yang merah, atau bahkan memakai karet gelang sekalipun bi sa dilakukan. Yang terpenting adalah substansinya tadi. Seperti juga, untuk menutup aurat ketika solat (bagi pria mulai pusar sampai batas bawah lutut), bisa dilakukan dengan sangat situasional sekali. Di Arab misalnya dengan ! memakai gamish, di Eropa dengan celana panjang, atau di Indonesia dengan kain sarung. Walau demikian tidak dapat disangkal bahwa telah terjadi simbolisasi agama Islam melalui peci dan sarung ini, khususnya di Indonesia. Meskipun hal ini tidak sepenuhnya benar. Misalnya orang orang di Burma yang kesehariannya memakai sarung, tidak mencermin kan mereka sebagai pemeluk agama Islam.  

Catatan Kedua: 
Sejarah Pemakaian Peci di Indonesia. Peci (Songkok) dipopulerkan pertama kali oleh founding father kita, Bung Karno. Seperti bisa anda baca dalam biografi Bung Karno, yang ditulis oleh Cindy Adams (Bung Karno, Penjambung Lidah Rakjat). Bung Karno merasa bahwa bangsa Indonesia memerlukan satu simbol untuk menunjukkan jati diri bangsa
Indonesia di forum internasional. Maka dipilihlah peci sebagai pengenal unik (uniqueidentifier) bangsa Indonesia. Walau demikian, Bung Karno mengkombinasikannya dengan memakai jas dan dasi, hal ini semata-mata menurut Bung Karno untuk menunjukkan kesetaraan antara bangsa Indonesia (terjajah) dengan Belanda (penjajah). Perlu dicatat, pada saat itu memakai dasi dan jas adalah hal yang ditabukan oleh ulama-ulama Islam konservatif. Namun Bung Karno bersikukuh dengan pendiriannya. Sampai-sampai pernah ada
satu kejadian lucu yaitu ketika Bung Karno hendak menikah dengan istri pertamanya (putri dari Bp. HOS.Tjokroaminoto), Bung Karno ingin memakai dasi, padahal ulama-ulama (termasuk yang ak! an menikahkannya) menolak pemakaian dasi, sebab mencerminkan budaya penjajah. Namun Bung Karno ngotot, sampai-sampai ia mengancam, daripada harus lepas dasi, lebih baik tidak jadi kawin.


Peci adalah simbol kebangsaan bukan keagamaan. Oleh karena itu barang siapa berusaha membabat peci dari simbol kebangsaan menjadi simbol keagamaan mencerminkan rendahnya pemahaman mereka terhadap kebangsaan Indonesia.


Tradisi adalah sebuah kebiasaan yang mencerminkan pola pikir masyarakatnya. Banyak nilai-nilai luhur yang bisa diambil dari nilai-nilai tradisi sebuah masyarakat. Namun ketika nilai-nilai tradisi itu melenceng dan mengaburkan nilai-nilai asli yang menjiwainya, segala hal yang menyangkut tradisi tersebut haruslah diluruskan kembali dengan menilik asal-muasalnya. Dalam hal ini peci merupakan sebuah sarana yang tepat untuk memberi sebuah perspektif dalam berpikir bahwa sebuah tradisi harus dilandasi nilai-nilai yang kuat. Peci sebagai penutup kepala dalam ajaran Islam, tidak bisa dipaksakan menjadi lebih dari sebuah produk budaya, karena tidak dilandasi dengan ajaran Islam sebagai titik tolaknya.

Memang sulit ketika suatu budaya sudah berubah fungsinya menjadi sesuatu yang lain dalam hal ini agama.  Sebagai umat Islam pakaian, jubah dan aksesoris bukan merupakan hal yang penting tetapi bagaimana keimanan kita dalam menjalankan Syariat.  Pakaian, jubah, aksesoris menurut saya sebagai pelengkap dan pendukung dalam kekhususan menjalankan ibadah kita dan bukan yang utama.  
Ada pepatah mengatakan "dont judge a book from his cover", ya jangan sampai kita salah dalam menilai orang.  Saat ini banyak politisi (yang menurut saya busuk) berlindung dibalik pakaian sorban, peci dan baju takwa nya serta mengatasnamakan agama dengan mudahnya, dalam setiap perkataannya tetapi perilakunya sungguh biadab, kata bang Rhoma mah....terlalu...semoga menjadi renungan kita semua, just info ...:)



sumber : 
http://kepaladiataskakidibawah.blogdetik.com/tag/the-da-peci-code/
http://telengas.multiply.com/journal/item/15/Peci_Simbol_Kebangsaan_Bukan_Keagamaan
http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1999/06/24/0026.html
http://www.bogornews.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=2447

3 komentar:

  1. wah bacaannya menarik banet neh,
    gak rugi bacanya.
    thx looo

    BalasHapus
  2. @busana muslim : thanks :)

    BalasHapus
  3. arigato gozaimasu infonya,tapi belum puas tidak di lengkapi hadisnya tentang memakai peci adalah salah satu aturan solat, pada saat bersujud, tidak dibenarkan ada benda lain yang menghalangi antara dah i dan tempat sujud (bhs.Arab= sajadah)

    BalasHapus